Cinta, Antara Keberanian atau Pengorbanan
Cinta, satu kata yang tak pernah habis bahasannya, yang tak pernah usai ceritanya, yang selalu membuat semua nalar seakan tak ada gunanya, yang mampu meluluhlantahkan gerbang logika, yang membunga-bungakan rasa, yang membuat mata berkaca-kaca, yang melambungkan cita, yang mampu membuat kita bahagia atau merana, yang mampu menyulut api di jiwa dan yang mampu mendebarkan dada. Sekiranya, begitulah sedikit gambaran tentang cinta yang katanya tak pernah berhenti mereda dalam jiwa-jiwa manusia.
Cinta, kadang bisa merubah diri tiap-tiap orang yang merasakannya. Orang yang tadinya mempunyai perangai buruk pun, seketika mempunyai tekad ingin berubah menjadi orang yang berperangai baik. Cinta, mampu menepis segala bentuk-bentuk kedustaan yang merajalela dan menggantikannya dengan simfoni-simfoni kejujuran yang membuat bahagia.
Pertanyaannya, bagaimanakah cara mencintai yang sejati? apakah dengan intensif menanyai kabarnya? apakah selalu mengajak jalan seseorang yang kita cinta padahal statusnya pun belum halal? apakah cinta harus melakukan apapun yang hati kita inginkan meski hal itu tak ada restu dari-Nya? Mari simak tentang kisah berikut, kisah seorang pemuda yang menyandingkan cinta dengan kesunyian yang di kutip dari buku "Jalan Cinta Para Pejuang" karya Ust Salim A. Fillah.
Ada rahasia terdalam di hati Sayyidina Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fatimah, karib kecilnya, putri tersayang Rasullullah shallallahu alaihi wasallam, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, dan parasnya.
Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka penuh darah dan kepala yang dilumuri isi perut unta. Dia bersihkan dengan hati-hati, dia seka dengan penuh cinta. Dia bakar perca, dia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati yang menangis. Muhammad bin Abdullah, Sang terpercaya, tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka, gadis itu bangkit. Gagah dia berjalan menuju Kakbah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya kepada Rasululllah shallallahu alaihi wasallam tiba-tiba dicekam diam. Fatimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jahat itu kesempatan untuk menimpali.
Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Namun, dia tersentak ketika suatu hari ia mendengar kabar yang mengejutkan. Fatimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan dekat kedudukannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lelaki yang membela islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaknya tak diragukan. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu.
Ali merasa diuji, karena merasa siapalah dia dibandingkan dengan Abu bakar. Kedudukan di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Abu bakar lebih utama, mungkin justru karena dia bukan kerabat dekat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti Ali. Tapi, yang pasti keimanan dan pembelaannya kepada Allah dan rasul-Nya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakar berdakwah. Lihatlah berapa banyak bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar. Utsman, Abdurrahman bin 'Auf, Thalhah, Zubair, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Mush'ab. Ini yang belum bisa dilakukan oleh anak muda seperti Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para fakir yang dibela oleh Abu Bakar. Bilal, Khabbab, keluarga Yasir, dan Abdullah bin Mas'ud. Siapa budak yang dibebaskan Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, mungkin lebih bisa membahagiakan Fatimah.
Ali hanya pemuda miskin. "Inilah persaudaraan dan cinta" gumam ali.
"Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku."
"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Dia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Dia adalah keberanian atau pengorbanan"
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali harapan di hati Ali yang sempat layu. Lamaran Abu Bakar ditolak. Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fatimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa. Seorang lelaki yang sejak masuk islam telah membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka. Seorang laki-laki yang membuat setan berlari dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Umar bin Khattab. Ya, Al-faruq, sang pemisah kebenaran dan kebatilan juga datang melamar fatimah.
Umar memang masuk islam belakangan, sekitar tiga tahun setelah Ali dan Abu Bakar. Namun, siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya kepada kaum muslimin? Lebih dari itu, Ali mendengar sendiri betapa seringnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, "Aku datang bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar." Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ayah Fatimah.
Lalu, coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana umar melakukannya. Ali menyusul Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi, karena tak menemukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka, dia hanya berani berjalan pada gelap malam. Sebaliknya, pada siang hari, dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
Umar telah berangkat sebelumnya. Dia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Kakbah. "Wahai Quraisy," katanya. "Hari ini, putra Al-Khattab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin istrinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang Umar di balik bukit ini!"
Umar adalah lelaki pemberani. Ali sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fatimah binti Rasulullah! Tidak. Umar jauh lebih layak. Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti ia mengambil kesempatan, itulah keberanian atau mempersilakan, dan inilah pengorbanan
Maka, Ali bingung ketika kabar itu menyeruak. Lamaran Umar juga ditolak. Menantu seperti apa kiranya yang dikehendaki Rasulullah? yang seperti Utsman sang miliarderkah, yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulullah? Yang seperti Abul 'Ash bin Rabi'kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulullah? Ah, dua menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu sungguh berbeda darinya. Di antara kaum Muhajirin, hanya Abdurrahman bin 'Auf yang setara dengan mereka. Atau, justru Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ingin mengambil menantu dari Ansar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa'd bin Mu'adzkah, sang pemimpin suku Aus yang tampan dan elegan itu? Atau, Sa'd bin 'Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
"Mengapa bukan kau yang mencoba, Kawan?" Kata-kata teman Ansarnya itu membangunkan lamunan.
"Mengapa kau tak mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu oleh Baginda Nabi"
"Aku?" tanyanya tak yakin.
"Ya. Kau, wahai saudaraku!"
"Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?"
"Kami di belakangmu, Kawan! Semoga Allah menolongmu!"
Ali pun menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka, dengan memberanikan diri, disampaikan keinginannya untuk menikahi Fatimah. Ya, menikahinya. Dia tahu, secara ekonomi, tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada baju besi di rumahnya, ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Namun, meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fatimah menantikannya pada batas waktu hingga dia siap? Itu juga sangat kekanak-kanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
"Engkau pemuda sejati, wahai Ali!" Begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggung jawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul risiko atas pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamaran itu menjawab, "Ahlan wa sahlan!" Kata itu meluncur tenang bersama senyum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Ali pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Namun, dia siap ditolak. Itu risiko. Kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung dijawab. Apalagi, menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
"Bagaimana jawab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Kawan? Bagaimana lamaranmu?"
"Entahlah."
"Apa maksudmu?"
"Menurut kalian apakah ahlan wa sahlan berarti sebuah jawaban?"
"Satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlah saja sudah berarti 'ya'. Sahlan juga. Kau mendapatkan ahlah wa sahlan, Kawan! Dua-duanya berarti 'ya'!"
Ali pun akhirnya menikahi Fatimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya, tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkeras agar dia membayar cicilannya. Itu utang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, Umar dan Fatimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, "Laa fata illa 'aliyy! Tak ada pemuda kecuali Ali!"
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali. Dia mempersilakan. Atau, mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dari kisah tesebut, dapat ditarik kesimpulan:
Tetaplah berusaha dan mencoba. Sementara itu, hasilnya biar Allah yang mengatur. Siapa sangka Abu Bakar yang luar biasa kedudukannya, pada akhirnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tolak. Pun dengan Umar. Sungguh ketetapan-Nya terkadang sulit untuk diterka. Apa pun itu, jika Dia telah berkenan, yang sekiranya tak mungkin bagi kita, sangat mudah bagi-Nya untuk mewujudkannya.
Jangan putus asa untuk terus menaruh percaya, karena di balik ketetapan yang mungkin tak sejalan dengan yang kita inginkan, Allah tengah mengatur kebaikan-kebaikan yang lain.
1 komentar untuk "Cinta, Antara Keberanian atau Pengorbanan"