Bicara, Aksi, dan Keikhlasan

“Talk less do more”

Mungkin pepatah di atas yang tepat menggambarkan bagaimana kita seharusnya di tengah pandemi ini. Alih-alih membuat feed tentang kemanusiaan. Membuat caption dengan baris-baris seperti syair yang menjuntai indah yang mampu menyentuh hati manusia. Seolah-olah yang paling menyuarakan tentang kemanusiaan. Namun, aksinya tak ada sama sekali.

“Loh, gapapa dong.... Segini juga udah ikutan ngebantu nenangin masyarakat di tengah kepanikan”

Memang betul, Ini adalah sebuah kebaikan. Seperti yang di katakan oleh Ibnu Sina atau yang bangsa barat kenal dengan nama Avichena bahwa : "Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan..."

Namun, dilain sisi. Jika niatnya hanya mencari like dan followers baru hanya untuk kesenangan dan mencari eksistensi. Maka, itu layak kita bahas lebih jauh dan renungi lebih dalam lagi.

Karena, pada hakikatnya. Suatu perbuatan itu tergantung niat. Jika niatnya baik, maka akan membuahkan hasil yang baik. Jika, niatnya buruk, maka akan membuahkan hasil yang buruk pula.

“Tidak pernah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku, karena niat selalu berubah-ubah” ~Sufyan At-tsauri
Jadi, benahi terlebih dahulu niat kita. Insyaallah, jika yang kita sampaikan adalah kebaikan, ikhlas dan benar-benar untuk kemanusiaan. Maka, kita akan dapat balasan yang sesuai. Entah itu ketenangan jiwa ataupun kebaikan yang lainnya.

Dan selanjutnya, selain sibuk tentang merangkai kata-kata ataupun ucapan. Kadang, kita juga melupakan bahwa aksi nyata lah yang utama. Satu aksi nyata akan terlihat lebih berharga dan menyentuh meski dibandingkan dengan Seribu nasihat tanpa ada aksinya sama sekali.

Tak jarang, dari aksi nyata lah yang mampu menyentuh dan menggerakan hati banyak orang untuk bergerak. Untuk ikut berkecimpung dalam hal kemanusiaan. Untuk berubah menjadi bermanfaat.

Hanya berbicara untuk menenangkan atau berbicara dengan dibarengi aksi. Keduanya memang baik, tapi lebih baik yang dibarengi dengan aksi. Karena apapun yang kita tulis, dan jika berkebalikan dengan perangai kita. Maka, perangai kita lah yang di nilai terlebih dahulu, sementara jika perangai kita buruk. Maka, tulisan yang berjuntai-juntai indah pun seakan tak ada maknanya, hilang isi yang di sampaikan, dihancurkan oleh perangai yang buruk.

Maka, yang harus kita perhatikan adalah kebaikan itu sendiri. Telah saya singgung tentang kebaikan di atas yang harus di awali dengan niat baik.

Namun, kadang niat awalnya kita baik. Tapi, entah dengan kehadiran seseorang yang kita suka, kadang niat juga jadi berbelok. Mungkin disaat kita akan berbuat baik dan tiba-tiba hati kita berubah niatnya, apa mungkin kita harus membatalkan untuk berbuat baik tersebut?

Taruh lah contoh, si A gemar bersedekah entah itu dengan bersembunyi atau dengan cara terang-terangan. Di saat si A akan mengeluarkan uang dari dompetnya untuk bersedekah. Si A melihat ada si B sedang melihatnya. Lalu, niat si A yang tadinya ikhlas, menjadi terganggu karena melihat si B.

Sebagian ulama pernah berpendapat, jika niat seketika berubah saat karena ingin dilihat seseorang. Maka, jangan batalkan berbuat baiknya dan berbuat baiklah terus hingga niat ingin dilihat oleh seseorang itu hilang.
Latihlah, berbuat baik dengan cara terang-terangan dan berbuat baik secara sembunyi-sembunyi. Sampai ikhlas, tak mengharap balasan dari manusia. Dan itu perlu latihan.

Menurut buku “How To Master Your Habbits” karya ustd. Felix siauw. Jika kita ingin memiliki suatu keahlian. Maka, mulailah berlatih dan mengulangnya. Karena orang tua dari suatu keahlian adalah practice (latihan) dan repetition(pengulangan).

Misal, Jika kita ingin menjadi seorang yang pandai berbicara. Maka berlatih dan ulanglah setiap hari untuk berbicara. Bisa menceritakan kembali kisah yang kita baca, bisa mengeluarkan semua yang kita pikirkan dan lain-lain. Jika kita ingin menjadi seorang penulis, maka sisihkan lah waktu setiap harinya untuk mulai menulis. Jika kita ingin ikhlas berbuat baik. Maka, latihlah kebaikan itu terus-menerus untuk ikhlas.

Memang tak ada yang instant di dunia ini. Tak pernah ada anak yang baru lahir dan langsung pandai menari tanpa belajar berdiri terlebih dahulu. Tak pernah ada orang yang pandai bermain bola tanpa berlatih menendang bola terlebih dahulu. Begitupun keikhlasan. Selain harus melatihnya, maka kita harus sabar mendedikasikan waktu untuk kebaikan.

Siapa bilang Istiqomah dalam kebaikan itu mudah? Istiqomah itu berat, kalo ringan namanya itu Istirahat.

Diam sejenak, mari lanjutkan..... :)


Posting Komentar untuk "Bicara, Aksi, dan Keikhlasan"