Pencarian status
Selalu begitu, dalam kehidupan manusia tak henti-hentinya memikirkan statusnya dihadapan manusia lainnya, entah itu mencari status sosial, popularitas, atau kedermawanan.
Selalu begitu, sudah jarang sekali menemukan manusia yang berjalan dengan keikhlasan dalam hatinya, selalu berharap akan sebuah balasan terhadap semua yang dilakukannya.
Selalu begitu, semuanya selalu sibuk dalam pencarian sebuah status, mahasiswa sibuk mengerjakan skripsinya demi untuk mendapatkan status menjadi sarjana, karyawan sibuk bekerja hanya demi mendapatkan kenaikan status jabatannya, anak muda sibuk memikirkan feed sosmed demi mendapatkan status sebagai influencer bahkan tak jarang juga hanya untuk mendapatkan banyak followers supaya dipandang sebagai orang yang keren, sosialita, atau apapun itu, jomblo yang sibuk mencari jodohnya hanya untuk berganti status menjadi menikah, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Tapi, pernahkah kita memikirkan status kita dihadapan Allah? Tuhan kita, yang selama ini membersamai kita, entah itu lara, maupun cita.
Allah tak memandang manusia dari segi fisiknya, tampangnya, popularitasnya, status sosialnya. Dia hanya melihat manusia dari sebuah daging yang tertanam didalam dada manusia yang bernama hati. Dia juga tak memandang manusia dari banyaknya harta yang manusia punya, banyaknya prestasi dunia yang manusia capai. Dia hanya menilai iman, takwa, dan amal manusia.
Begitulah realitanya, kita terlalu sibuk mengejar status dihadapan manusia, hingga lupa akan kehadiran-Nya, terlalu berharap pada dunia yang fana, sampai merasa berjuang, meremuk badan hingga tak upaya, hingga lelah tak berdaya, melebur semua cita kepada rasa putus asa, semuanya berjalan diatas rasa hampa, demi dunia yang fana, dan mereka lalai dengan kehidupan setelah hidupnya.
Belajar dari Hamzah bin Abdul Muthalib paman rasulullah, yang selalu ulung didalam barisan para syuhada, yang tak segan untuk berdiri paling depan demi membela agamanya, hingga-hingga Allah memberinya julukan sebagai 'singa nya Allah' dan kelak di hari akhir, hamzah lah yang akan memimpin barisan para syuhada.
Begitu juga dengan khalid bin walid, siapa yang tak mengenal beliau, ia yang tak pernah kalah dalam 100 peperangannya dan hanya dikalahkan oleh manusia terbaik sepanjang masa, Rasulullah, khalid yang dituliskan dengan tinta emas sebagai jenderal terbaik sepanjang sejarah, sampai-sampai ia mendapatkan status julukan sebagai 'pedang Allah yang terhunus'.Namun, meski ia telah banyak melalui berbagai medan pertempuran, diakhir hidupnya ia tak menjemput syahidnya di peperangan, ia meregang nyawa nya di atas ranjang nya, Allah tak rela pedangnya dipatahkan oleh musuh-musuhnya di medan pertempuran.
Tak lupa juga akan perjuangan seorang Uwais Al-Qarni yang berjalan memangku ibu nya lebih dari 1000 Kilo Meter dari Yaman ke Mekah, untuk mengantar ibu nya melaksanakan haji. Sedikitpun, ia tak mempunyai kepopuleran di kalangan manusia, namun ia terkenal di seluruh langit.
Begitulah, mereka mengutamakan akhirat, namun tak melupakan bagiannya di dunia.
Untuk kamu yang sedang berjuang, berjuanglah, carilah kebenaran, terus belajar dari setiap ujian yang kamu lewati, entah itu ujian yang menyesakan, atau ujian yang menyenangkan, hancurkan rintangan yang menghadang, jika niat mu tulus, yakinlah semuanya akan berujung dengan sebuah keindahan, meskipun berawal dengan rasa pahit akan sebuah perjuangan, percayalah, dimulai membenarkan niat, memperbaiki langkah, melesatkan tujuan, maka kebenaran, kesabaran, kekuatan, keindahan, ketenangan dan kebahagiaan akan selalu membersamaimu :)
________________________________________________
Terinspirasi dari :
- bukunya teh farah qoonita "Seni tinggal di bumi"

Posting Komentar untuk "Pencarian status"
Posting Komentar